Senin, 22 Mei 2017

rangkuman sastra anak



Pengertian, Tingkatan, Dan Manfaat Apresiasi Sastra Anak-Anak
1.      Pengertian Apresiasi Sastra Anak-anak 
Untuk mehamai apresiasi sastra anak-anak perlu dipahamai dengan baik kata apresiasi dan sastra anak-anak. Apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti “mengindahkan” atau menghargai”. Berarti secara harpiah apresiasi sastra adalah penghargaan terhadap karya sastra. Munculnya penghargaan (yang positif) terhadap karya sastra merupakan manifestasi dari adanya pengetahuan tentang sastra, sejumlah pengamalan emosional dan penajaman kognitif di bidang sastra, serta pengalaman keterampilan bersastra, baik secara reseptif maupun secara produktif.
Sedangkan  sastra anak-anak merupakan  karya  yang dari segi bahasa  memiliki nilai estetis dan dari segi isi mengandung nilai-nilai yang dapat memperkaya pengalaman  ruhani bagi kalangan anak-anak. Pramuki  (2000) mengungkapkan bahwa  sastra anak-anak  adalah karya  sastra (prosa, puisi, drama) yang isinya mengenai anak-anak; sesuai kehidupan, kesenangan,  sifat-sifat, dan perkembangan anak-anak. Sedang manurut Solchan dkk (1994:225) membagi pengertian sastra anak-anak atas dua bagian, yakni  sebagai berikut. “Pertama sastra anak-anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya remaja atau dewasa yangisi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak. Kedua, sastra anak anak adalah sastra yang ditulis oleh pengarang yang usianya masih tergolong anak-anak yang isi dan bahasanya mencerminkan corak kehidupan dan kepribadian anak.
Apresiasi sastra anak-anak merupakan serangkaian kegiatan bermain dengan sastra  sehingga tumbuh  pemahaman, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, kepekaan persaan yang baik bagi anak terhadap karya sastra anak- anak.
2.      Tingkatan Apresiasi Sastra
 Adapun tingkatan apresiasi sastra, Wardani (1981)  membagi tingkatan apresiasi sastra ke dalam empat tingkatan sebagai berikut. (1) Tingkat menggemari, yang ditandai oleh adanya rasa tertarik kepada buku- buku sastra serta keinginan membacanya dengan sungguh-sungguh, anak melakukan kegiatan kliping sastra secara rapi, atau membuat koleksi pustaka mini  tentang karya sastra dari berbagai bentuk. (2) Tingkat menikmati, yaitu mulai dapat menikmati cipta sastra karena mulai tumbuh pengertian, anak dapat merasakan nilai estetis saat membaca puisi anak-anak, atau mendengarakan deklamasi puisi/prosa anak-anak, atau menonton drama anak-anak. (3) Tingkat mereaksi yaitu mulai ada keinginan utuk menyatakan pendapat tentang cipta sastra yang dinikmati misalnya menulis sebuah resensi, atauberdebat dalam suatu diskusi sastra secara sederhana. Dalam tingkat ini juga termasuk keinginan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sastra. (4) Tingkat produktif, yaitu mulai ikut menghasilkan ciptasastra di berbagai media masa seperti koran, majalah atau majalah dinding sekolah yang tersedia, baik dalam bentuk puisi, prosa atau drama.



3.      Manfaat Apresiasi Sastra
                                                                                                                                                Apresiasi sastra memiliki berbagai manfaat. Moody dan Leslie S. (dalam Wardani,1981) mengemukakan manfaat apresiasi sastra: (a) melatih keempat keterampilan berbahasa, (b) menambah pengetahuan tentang pengalaman hidup manusia seperti adat istiadat, agama, kebudayaan, dsb, (c) membantu mengembangkan pribadi, (d) membantu pembentukan watak, (e) memberi kenyamanan, (f) meluaskan dimensi kehidupan dengan pengalaman baru.
4.      Jenis dan Contoh Karya Sastra Anak 
Sastra anak-anak (kompas, 2005) membagi sastra anak-anak ke dalam beberapa jenis, yakni: fiksi, nonfiksi, puisi, sastra tradisonal,  dan komik. Pembagian tersebut  sejalan  dengan Framuki (2000) bahwa sastra anak-anak yang bersifat imajinatif dapat dibagi atas tiga macam yakni puisi, prosa, dan drama. Berdasarkan pendapat tersebut sastra anak-anak dapat dibagi atas tiga macam sebagai berikut 
a)      Puisi
 Apa yang dimaksud dengan puisi? Sudjiman (dalam Nadeak:1985:7) menyatakan bawa “puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Pengertian tersebut relatif sejalan dengan pengertian puisi  yang dikemukakan oleh Ralph Waldo Emmerson bahwa “puisi adalah mengajarkan  sebanyak-banyaknya dengan kata-kata yang sesedikit-dikitnya”. Berbeda dengan pendapat Mattew Arnold yang melihat dari segi keindahan pendendangannya bahwa  bahwa “puisi adalah satu-satunya cara yang paling indah, impresif dan paling efektif mendendangkan sesuatu” (dalam Situmorang: 1981:9).  Berdasarkan pengertian tersebut dapatlha dikatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang berbentuk untaian  bait demi bait  yang relatif memperhatikan irama dan rima  sehingga sungguh indah dan efektif didendangkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan bentuk karya sastra lainnya.
§  Puisi naratif
Puisi naratif adalah puisi isinya berupa cerita. Penyair menyampaikan gagasanya dalam bentuk puisi  dengan cara  naratif yang di dalamnya tergambar ada pelaku yang berkisah.
§  Puisi lirk
 Adalah puisi yang mengungkapkan  gagasan pribadinya  dengan cara tidak bercerita. Puisi lirik dapat berupa pengungkapan pujaan terhadap seseorang.
§  Puisi deskriptif      
 Adalah puisi  penyair yang mengungkapkan gagasannya dengan cara melukis-kan sesuatu untuk mengungkapkan kesan, peristiwa, pengalaman menarik yang pernah dialaminya.

b)      Prosa
Apakah prosa sama dengan puisi? Tentu prosa dengan puisi jauh berbeda bentuknya! Surana (1984:105) mengemukakan pengertian  prosa sebagai berikut. Bentuk karangan sastra dengan bahasa biasa,  bukan puisi, terdiri atas kalimat-kalimat yang jelas pula runtutan pemikirannya, biasanya ditulis satu kalimat setelah yang lain, dalam kelompok- kelompok yang merupakan alinea-alinea. 

Pengertian prosa yang dikemukakan oleh Surana  di atas saling melengkapi dengan pengertian prosa fiksi atau narasi  yang digambarkan oleh Aminuddin (2004:66)  sebagai berikut: Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku- pelaku  tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan  dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu ceita. 
Berdasarkan kedua pengertian di atas  dapatlah kita mengatakan bawa prosa fiksi anak-anak adalah karya sastra yang tidak dibuat atas ragkaian  bait demi bait  tetapi dibuat atas rangkaian  paragraf demi paragraf dengan merangkaikan unsur  unsur seperti tempat, waktu, suasana, kejadian, alur pristiwa, pelaku  berdasarkan tema cerita tertentu yang diperoleh secara imajinatif. Cullinan  (1989) menyebutkan  beberapa jenis  prosa fiksi, antara lain: (1) prosa fiksi sains, (2) prosa fiksi realistik, (3) prosa fiksi imajinatif.

§  Prosa   fiksi sains
  Prosa fiksi sains adalah cerita fiksi  yang disusun dengan menekanan pada isi yang ingin disampaikan. Isi yang disampaikan berupa ilmu pengetahuan (sains) atau bersifat faktual . Namun demikian isi yang bersifat faktual tersebut disusun dalam bentuk cerita fiksi dengan cara Kajian Bahasa Indonesia di SD    7- 17 menentukan pelaku, latar, dan alur. Tujuannya untuk   menarik minat dan perhatian siswa sehingga mereka merasa tidak sulit memahami isi dan pesan  yang ingin disampaikan pengarang.


§  Prosa  fiksi  realistik
 Adalah cerita yang disusun dengan tujuan menyampaikan sesuatu yang  mengandung  nilai-nilai  kehidupan yang logis, baik berkaitan dengan etika, moral,  relegius,  dan nilai-nilai lainnya. Nilai-nilai tersebut diungkap melalui prosedur “bercerita”   dengan menentukan tema,  latar, alur, penokohan, sudat pandang, dan amanat yang ingin disampaikan.  Peristiwa demi peristiwa yang disampaikan bukan merupakan  fakta atau kejadian yang sesungguhnya  melainkan peristiwa yang bersifat fiktif  (seolah-olah pernah terjadi). Dikatakan  realistik karena isi atau tema cerita tersebut diangkat dari kehidupan sehari-hari; ada kemungkinan hal tersebut terjadi dalam kenyataan sehari meskipun pelaku tempat, dan waktu kejadian berbeda.

§  Prosa fiksi imajinatif (folkrole)
 Adalah cerita yang di dalamnya menyajikan rangkaian perstiwa yang pelaku-pelakunya  hanya ada dunia dalam dunia imajinasi pengarang; tidak ada dalam kehidupan sehari-hari,  misalnya raksasa pemakan manusia dan burung garuda raksasa,  dalam cerita Bugis diistilahkan dengan nenepakande dan kuajang. Cerita seperti ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan bagi anak-anak yang suka dongeng dengan pelaku raksasa atau binatang (fabel).

c)      Drama
 Bagaiamana dengan drama? Samakah dengan prosa atau berbeda ?  Surana (1984) memberikan jawaban bahwa “drama adalah karangan prosa atau puisi berupa dialog dan keterangan laku untuk dipertunjukkan di atas pentas.” Pengertian tersebut sejalan dengan pengertian drama yang disampaikan oleh Hermawan (1988:2) bahwa “drama merupakan cerita konflik manusia  dalam bentuk dialog yang diproyeksikan   pada pentas   dengan menggunakan percakapan dan action di hadapan penonton.”  Jadi, drama merupakan salah satu  karya sastra yang dipakai sebagai medium pengungkapan gagasan atau perasaan melalui serangkain dialog antarpelaku dan adegan, yang tujuan utamanya  bukan untuk dibacakan secara estetis melainkan untuk dipertunjukkan.

5.      Ciri-ciri Puisi Anak-anak
Ciri-ciri yang perlu diperhatikan dalam memilih puisi di SD, menurut Rusyana (Dalam Nadeak, 1985:62) adalah: (a) isi sajak harus merupakan pengalaman dari dunia anak sesuai umur dan taraf perkembangan jiwa anak, (b) sajak itu memiliki daya tarik terhadap anak, (c) sajak itu harus memiliki keindahan lahiriah bahasa, misalnya irama yang hidup, tekanan kata yang nyata, permainan bunyi, dan lain-lain, (d) perbendaharaan kata yang sesuai dengan dunia anak.
 Sedangkan menurut Sutawijaya, dkk (1992) pusi yang diberikan kepada anak sebagai bahan pembelajaran apresiasi sastra puisi di SD hendaknya memiliki ciri sebagai berikut:
(1) Ciri keterbacaan
§  Bahasa yang digunakan dapat dipahami anak, artinya kosa kata yang digunakan dikenal    oleh anak,   susunan kalimatnya sederhana sehingga dapat dipahami oleh anak.
§  Pesan yang dikandung puisi dapat dibaca dan dipahami anak karena tidak  bersifat  diapan (tersembunyi) melainkan bersifat transparan atau eksplisit.
(2) Ciri kesesuaian
§  Kesesuaian dengan kelompok usia anak, pada usia anak Sekolah Dasar  menyukai puisi yang membicarakan kehidupan sehari-hari , petualangan, kehidupan keluarga yang nyata.
§   Kesesuaian dengan lingkungan  sekitar tempat anak berada. Artinya,  anak  yang berada di lingkungan sekitar  pantai akan bersemangat  jika puisi yang diberikan untuk dipelajari adalah puisi yang berbicara tentang pantai. Atau pada musim kemarau, puisi yang diajadikan bahan ajar adalah puisi yang berbicara tentang kemarau.

6.      Ciri-ciri  Cerita Anak-anak
 Bagaimana dengan ciri prosa anak-anak dan contohnya? Cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan ajar di SD  hendaknya cerita memiliki ciri- ciri: bahasa yang sederhana, pilihan kata yang dapat dipahami, sesuai dengan   kegemaran dan  perkembangan usia  anak, dan lingkungan yang relevan dengan dunia anak misalnya pada musim panen dipilih cerita yang berkaitan dengan kehidupan petani. Hasyim (1981) mengemukakan  bahwa cerita yang diberikan kepada anak sebagai bahan belajar di Sekolah Dasar hendaknya memiliki ciri sebagai berikut.
(a) Bahasa  yang digunakan haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan      bahasa  anak.
(b) Isi ceritanya haruslah sesuai dengan tingkat umur dan perhatian anak.
Pada    tahap pertama (kelas 1-3 SD)  , bacaan untuk anak laki-laki dan wanita dapat disamakan.
Untuk selanjutnya ( kelas 4-6 SD)  secara berangsur- angsur akan kelihatan bahwa anak laki-laki lebih menyenangi cerita petualangan, olahraga, dan teknik, sedangkan anak wanita lebih menyenangi cerita yang bersifat kekeluargaan dan  sosial.
(c) Hendaknya jangan diberikan cerita yang bersendikan politik tetapi mengutamakan pendidikan moral dan pembentukan watak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar