Teman
Yang Tak Kunjung Datang
Dengan
lihai aku menekan tombol-tombol diremot televesiku yang berwarna hitam.
Tampaknya siang itu tidak ada acara yang menarik. Sambil mendengus kesal aku
menekan tombol bulat berwarna merah diujung remot. TV pun mati dalam sekejap.
Kulihat Ibu sedang berbicara dengan seseorang di Handphone-nya. Setelah Ibu
selesai, barulah aku berani mendekat dan bertanya.
“Siapa
yang menelfon, Bu?” tanyaku.
“Oooh,
ini Tante Mela. Katanya, Mayri mau kesini. Pingin main sama Kakak. Soalnya, kan,
besok Mayri pulang ke Desanya di Sekatak.” Jawab Ibu sambil menyapu debu yang
ada disekitar rak sepatu.
“Kapan?”
tanyaku bersemangat.
“Mmmm…
mungkin nanti sore. Lagian Tante Melanya juga masih ngajar disekolah.” Jawab
Ibu lagi, “gimana kalau nanti ajakin Mayri main di Time Zone? Sekalian Ibu
traktirin dia dan keluarganya makan-makan. Gimana?”
“Boleh
juga. Duuuh.. jadi enggak sabar pingin cepat-cepat ketemu.”Kataku sambil
berlalu pergi menuju TV. Nonton lagi maksudnya, hihihihihi…
Tak
terasa waktu terus berlalu. Suara adzan Ashar pun berkumandang. Aku segera
mengambil air wudhu dan melaksanakan slahat Ashar. Dalam do’aku, aku berdo’a
supaya pertemuanku dengan Mayri akan segera dimulai. Setelah mengucapkan “
Amin”, Ibu menyuruhku untuk bersiap. Supaya nanti saat Mayri datang, aku sudah
siap. Aku mengangguk dan segera melipat mukenaku. Kemudian kuletakkan didalam
lemari pakaianku.
Kuambil
celana jeans biru, baju lengan panjang berwarna biru dengan gambar mata kucing
didepannya. Tak lupa kuambil jilbab segitiga yang berwarna biru tua. Sambil
menunggu setrika memanas, aku membaca buku komik Donal Bebek. Setelah beberapa
menit kutunggu, akhirnya setrika pun panas. Dengan hati-hati aku mulai
menyetrika baju, celana dan jilbab yang akan kupakai nanti.
“Bu,
bagaimana? Cocok tidak?” tanyaku sambil memutar tubuhku untuk memperlihatkan
pakaian yang kupakai.
“Bagus.
Cocok banget!” jawab Ibu. Aku cengar-cengir malu.
“Hadi,
kamu udah siap belum?” tanyaku. Aku pun pergi kekamarnya.
“Astagfirullah!
Kamu belum siap-siap dari tadi?” aku kaget melihat adikku yang hanya memakai
pakaian dalam.
“Habis,
Kakak enggak nyiapin baju buat Hadi!” jawab Hadi sambil bangun dari duduknya.
“Kamu,
kan, udah kelas empat SD. Masa masih buntuh bantuan diambilin baju? Kalah,
dong, sama anak kelas satu.” Aku mengambil baju dan celana untuknya. “Nih!
Kalau udah selesai, nanti kedapur, ya. Ada buah belimbing yang udah dipotong
Ibu tadi. Cepetan, sebelum belimbingnya habis dimakan Kakak.”
Aku
segera pergi meninggalkan kamar Hadi. Setelah mencuci tangan, aku segera
menyantap buah belimbing manis yang dibeli ibu tadi pagi dipasar. Hmmm… seger!
“Bu,
Mayri kapan datangnya? Ini udah jam setengah lima, lho.” Tanyaku memecah
hening.
“Enggak
tau juga. Kita tunggu aja. Pasti datang, kok.” Jawab Ibu tanpa lepas dari layar
Handphone sama sekali. Aku hanya mendengus dan kembali membaca buku.
Waktu
terus berlalu. Hingga jam menunjukkan angka 17:34, Mayri belum datang juga. Aku
jadi gelisah. Apa mungkin Mayri enggak jadi datang kali, ya? Haaah… enggak usah
dipikirin,
“Bu,
Kakak mau jalan-jalan dulu sebentar, ya. Sambil nungguin Mayri.” kataku pada
Ibu.
“Jalan-jalan
kemana?” Tanya Ibu.
“Disekitar
sini aja, kok. Assalammu’alaikum!” pamitku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar