Senin, 22 Mei 2017

PROSA (CERPEN) teman yang tak kunjung datang



Teman Yang Tak Kunjung Datang

Dengan lihai aku menekan tombol-tombol diremot televesiku yang berwarna hitam. Tampaknya siang itu tidak ada acara yang menarik. Sambil mendengus kesal aku menekan tombol bulat berwarna merah diujung remot. TV pun mati dalam sekejap. Kulihat Ibu sedang berbicara dengan seseorang di Handphone-nya. Setelah Ibu selesai, barulah aku berani mendekat dan bertanya.
“Siapa yang menelfon, Bu?” tanyaku.
“Oooh, ini Tante Mela. Katanya, Mayri mau kesini. Pingin main sama Kakak. Soalnya, kan, besok Mayri pulang ke Desanya di Sekatak.” Jawab Ibu sambil menyapu debu yang ada disekitar rak sepatu.
“Kapan?” tanyaku bersemangat.
“Mmmm… mungkin nanti sore. Lagian Tante Melanya juga masih ngajar disekolah.” Jawab Ibu lagi, “gimana kalau nanti ajakin Mayri main di Time Zone? Sekalian Ibu traktirin dia dan keluarganya makan-makan. Gimana?”
“Boleh juga. Duuuh.. jadi enggak sabar pingin cepat-cepat ketemu.”Kataku sambil berlalu pergi menuju TV. Nonton lagi maksudnya, hihihihihi…
Tak terasa waktu terus berlalu. Suara adzan Ashar pun berkumandang. Aku segera mengambil air wudhu dan melaksanakan slahat Ashar. Dalam do’aku, aku berdo’a supaya pertemuanku dengan Mayri akan segera dimulai. Setelah mengucapkan “ Amin”, Ibu menyuruhku untuk bersiap. Supaya nanti saat Mayri datang, aku sudah siap. Aku mengangguk dan segera melipat mukenaku. Kemudian kuletakkan didalam lemari pakaianku.
Kuambil celana jeans biru, baju lengan panjang berwarna biru dengan gambar mata kucing didepannya. Tak lupa kuambil jilbab segitiga yang berwarna biru tua. Sambil menunggu setrika memanas, aku membaca buku komik Donal Bebek. Setelah beberapa menit kutunggu, akhirnya setrika pun panas. Dengan hati-hati aku mulai menyetrika baju, celana dan jilbab yang akan kupakai nanti.
“Bu, bagaimana? Cocok tidak?” tanyaku sambil memutar tubuhku untuk memperlihatkan pakaian yang kupakai.
“Bagus. Cocok banget!” jawab Ibu. Aku cengar-cengir malu.
“Hadi, kamu udah siap belum?” tanyaku. Aku pun pergi kekamarnya.
“Astagfirullah! Kamu belum siap-siap dari tadi?” aku kaget melihat adikku yang hanya memakai pakaian dalam.
“Habis, Kakak enggak nyiapin baju buat Hadi!” jawab Hadi sambil bangun dari duduknya.
“Kamu, kan, udah kelas empat SD. Masa masih buntuh bantuan diambilin baju? Kalah, dong, sama anak kelas satu.” Aku mengambil baju dan celana untuknya. “Nih! Kalau udah selesai, nanti kedapur, ya. Ada buah belimbing yang udah dipotong Ibu tadi. Cepetan, sebelum belimbingnya habis dimakan Kakak.”
Aku segera pergi meninggalkan kamar Hadi. Setelah mencuci tangan, aku segera menyantap buah belimbing manis yang dibeli ibu tadi pagi dipasar. Hmmm… seger!
“Bu, Mayri kapan datangnya? Ini udah jam setengah lima, lho.” Tanyaku memecah hening.
“Enggak tau juga. Kita tunggu aja. Pasti datang, kok.” Jawab Ibu tanpa lepas dari layar Handphone sama sekali. Aku hanya mendengus dan kembali membaca buku.
Waktu terus berlalu. Hingga jam menunjukkan angka 17:34, Mayri belum datang juga. Aku jadi gelisah. Apa mungkin Mayri enggak jadi datang kali, ya? Haaah… enggak usah dipikirin,
“Bu, Kakak mau jalan-jalan dulu sebentar, ya. Sambil nungguin Mayri.” kataku pada Ibu.
“Jalan-jalan kemana?” Tanya Ibu.
“Disekitar sini aja, kok. Assalammu’alaikum!” pamitku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar